Skip to main content
Transkip

Bagaimana tentang KOWAPI, bu?

By December 21, 2019April 29th, 2021No Comments

Wawancara Sejarah Lisan Dewi Motik Pramono (Ketua Umum IWAPI Periode 1982-1992)

Lokasi Wawancara: Jalan Surabaya No. 34-36 Menteng, Jakarta Pusat
Waktu Wawancara : Sabtu,21 Desember 2019, Pukul 11.00 – 13.00

Pertanyaan (P): Bagaimana tentang KOWAPI, bu?

Jawaban (J): KOWAPI itu bank simpan pinjam. Ya memang benar saya adalah perintis IWAPI dan KOWAPI. Prinsip saya kerjakan semua dulu, istiqomah, kerjakan dulu. Alhamdulillah, saya sampai usia 70 tahun masih diundang untuk berbagai acara. Saya dapat banyak penghargaan tapi kita tidak perlu sombong. Kita kerjakan apa yang harus dilakukan, jangan jahat. Begitu juga dengan Allah, kita gak boleh pelit sama Allah. Maaf ya kalau dzikir juga tidak boleh hitung-hitungan. Baca Yasin hanya di malam jumat. Bacalah Surat Yasin sehari sekali. Dengan catatan. Semua yang dikabulkan adalah that’s the best from Allah.

 

Pertanyaan (P): Bagaimana pemikiran Bu Dewi tentang peran wanita?

(J): Saya selalu berpegang pada Al-Quran Nur Karim. Di dalamnya dikatakan bila ingin melihat suatu negera lihatlah wanitanya. Wanita sebagai tiang negara, sebagai sanggahan. Saya melihat sekarang kenapa negara saya penuh dengan koruptor. Kebetulan saya sekarang ada di komite pengusaha anti korupsi dan sebenarnya ada modul-modul yang sederhana. Beranikah kita setiap wanita bertanya kepada suami kita masing-masing dari mana duitnya berasal. saya yakin dan percaya semua yang kita makan itu darimana datangnya.

Saya pernah lihat kompleks dosen-dosen terlihat asri. Mereka tidak kaya, tapi hidup pas-pasan. Saya yakin bahwa engkau apa yang engkau makan, dari mana uang itu. Allah menciptakan Siti kadjihah, istri Rasullah. Kenapa Allah menakdirkan Nabi Muhammad dengan istri Khadijah. Kalau orang punya uang beda, dalam Islam tidak ada larangan wanita tidak boleh berkarir, asal atas ijin suami. Doa dari suami. Itu yang sangat pegang. Kalau kamu jadi karyawan itu repot. Tapi kalau kamu jadi bos, itu beda. Kamu bisa mengatur semuanya.

Dari sekolah saya sudah berani jual beli. Dari kecil saya sudah berani menjual barang. Membeli cincin 200 dari orang kecil. Nah itulah yang menurut saya ilmu yang harus diterapkan oleh ibu-ibu. Jangan pernah berhenti mencoba. Mau bekerja. Jangan menghalangi dengan mengatakan tidak bisa. Ambil keputusan, kerja, biar Tuhan yang menyelesaikan. Saya dari kecil selalu mencari uang. Wanita harus mencintai suami, keluarga, masyarakat dan negara, beres. Saya selalu setiap mau kerja ijin suami dan selalu memberi kabar. Kembali lagi hablimnallah dan hablinannas. Kondisi wanita zaman sekarang dan dahulu tidak jauh beda, hanya perbedaan di teknologi.

(P): Kembali ke IWAPI, pada tahun 1978-1982 ibu jadi merangkap dua jabatan ya?

(J): iya benar saya merangkap jabatan, sebagai Ketua Bidang Ekonomi IWAPI Pusat dan KEtua IWAPI Jaya. Saya bersyukur saya orangnya di suruh tunggu boleh, dihina boleh. Saya selalu biasa kerja. Saya selalu mengerjakan dan tidak menjadi soal kerjaan saya dipakai orang. Tidak jadi soal siapa yang menjadi ketua, tapi saya yang memang bekerja. Orang kadang suka sakit hati, tapi bagi saya itu adalah ilmu. Justru kita dikasih ilmu sama Allah. Kalau kita dapat kesempatan gak usah sakit hati orang mau mengakui pekerjaan kita. Biarkan saja. nanti juga ketahuan sendiri. ini siapa yang nyari sponsor, nanti juga ketahuan siapa yang bisa menjelaskan. Ketahuan apa dia pernah rapat? Apa dia tahu berapa cabang yang pernah didirikan? Jadi gak usah kuatir, kerjakan saja.

(P): Bagaimana perkembangan jaringan internasional pada jaman Bu Dewi sebagai Ketua Umum IWAPI?

(J): Kembali lagi saya senang, saya memiliki jaringan yang kuat, terutama dengan bu Tien dan Pak Joop Ave. Waktu bikin pameran di Belanda. Saya kenal atase militer yang merupakan sahabat suami putri Juliana. Saya selalu mencoba dulu, saya bilang kepada pak Joop. Eh gak taunya bener, istana Belanda menelepon saya. Namanya usaha, jadi kita kerjakan dulu. Itu contohnya. Berbuat untuk kebaikan. Salah satu kekuatan saya adalah sedekah. Kalau mau sehat, sukses dengan sedekah. Hasil penjualan buku saya 100% buat anak yatim. Kalau kamu bener, jalanin, kalau gak bener jangan, itu bohongin Tuhan.

Tapi sebetulnya dari dulu saya selalu mendukung kakak saya. Aku adalah adik yang sangat sayang dan mengangumi kakaknya. Kakak saya sebagai konseptor, saya banyak sebagai implementor. Saya percaya otak kakak saya luar biasa. Bagi saya kakak saya adalah sesuatu yang harus dihormati. Dia idola, motivator dan kreator.

 

(P): Bagaimana kontribusi Bu Kemala ketika ibu menjadi Ketua Umum IWAPI?

(J): Kakak saya selalu mensupport saya. Kami selalu ngobrol perkembangan IWAPI. Yu Kemala pinter, idenya banyak. Dia syok juga waktu memimpin IWAPI saya berhasil menyelesaikan S3 saya. Bagi saya, Allah selalu kasih saya jalan. Kamu boleh punya ide, tapi Tuhan yang menentukan. Hal-hal yang sederhana kita selalu minta sama Allah, pasti Allah bantu.

(P): Pusat Pendidikan IWAPI didirikan pada tahun 1979, dua tahun kemudian Ibu menggantikan Bu Kemala sebagai Ketua Umum, apakah ada juga pembaruan di Pusat Pendidikan IWAPI?

(J): Yu Kemala orang tidak suka ngajar, saya suka ngajar. Saya disitu juga berkembang, saya mempelajari entrepreneursip, menghadiri dan mengisi berbagai pelatihan. Yu Kemala itu konseptor. Kami saling mengisi dengan yu Kemala. Dia cepat banget mengatakan action. Kakak saya kurang waktu. Dia mensupport saya. Dia gak ada waktu, saya ada waktu, Dwi tunggal ini saling isi. Kakak saya tahu saya tidak akan menghianati dia. Dia cantik, pinter dan punya ide banyak dan saya belajar banyak dari dia.

Banyak murid saya sudah lulus dari sana dan pendidikan yang lain, Alhamdulilah. Saya mengajar di Papua, ada murid saya, banyak tersebar dimana-mana. Murid saya yang di Cilegon itu sampai bilang, saya ingat selalu point-point yang ibu sampaikan. Sekarang saya sudah jadi pejabat, Ibu kesini ya nanti saya jemput. Itu kata murid saya. Saya bersyukur kepada Allah. Tuhan tidak pernah tidur, apa yang kita tanam akan selalu berkembang.

Saya senang mengajar. Sebenarnya saya pulang dari Amerika ingin ngajar anak-anak disabilitas di Jalan Pegangsaan, tetapi ayah saya melarang. Kata ayah saya kamu sensitif nanti pengaruh kepada kehamilan. Maju nak, begitu kaya ayah saya. Kita jangan rebut urusan apapun, kerja dulu. Nah sekarang malahan saya ngurus anak-anak disabilitas. Kalau bukan karena Tuhan. Saya jualan lukisan 50 anak-anak cacat, laku. Semua karena Tuhan

 

(P): Inovasi pada masa Bu Dewi adalah lahirnya koperasi pada tahun 1984. Selain itu adakah program lain yang belum diwujudkan pada masa Ibu Kemala?

(J): Oh kamu jangan bilang begitu. Saya sama Bu Kemala selalu sama dia, seperti Gelanggang Dagang, sebenarnya itu karya saya tapi Bu Kemala juga mendukung. Itu memang kerjaan saya. Tidak ada Kemala sendiri, saya sendiri. Kami selalu bersama. itu memang kerjaan saya. Saya yang punya network dst. Dwi tunggal itu beriringan. Hal-hal yang seperti ini mungkin tidak dilakukan oleh orang lain. Saya menguatkan juga setiap hal dengan kakak saya, Kemala. Kami mendirikan IWAPI berdua, ide itu muncul waktu dalam perjalanan kami dari Krekot. Sekarang Yu Kemala sakit, saya damping anaknya meneruskan Universitas Esa Unggul.

 

(P): Selain koperasi, adakah program IWAPI lainnya?

(J): pelantikan. pelatihan, pendidikan, seminar. Kemanapun saya pergi, semua tetep ingat saya sebagai ketua IWAPI. dari daerah kecil sampai ke pelosok. Saya juga bingung apa yang sudah saya kerjakan begitu mereka mengingat saya. Semua ini karena Tuhan.

(P): Ibu pernah keliling kota untuk memberikan pendidikan ya bu?

(J): pernah 3 hari untuk 11 kota. Pendidikan kemana-mana. Jadi 27 provinsi saya kemana. Dengan person ke person saya lebih senang. Pendidikan makanan saya. Saya suka itu. Ngobrol sama orang. Ilmu pendidikan itu makanan buat saya, jadi saya seneng dimana aja.

 

(P): Ide KOWAPI sendiri itu awalnya bagaimana bu?

(J): Zaman dulu kalau wanita mau pinjam uang ke bank harus ijin suami dulu. Gila gak tuh. Ada aturan-aturan yang memberatkan bagi wanita pengusaha. Apalagi kalau suaminya gak paham, bagaimana coba itu.

 

(P): KOWAPI itu terus meningkat pas zaman Bu Dewi?

(J): Semua laporan bagus. Persoalan kan tidak semua sama. Saya gak mikirin untung rugi. Tapi saya merasa, kita harus ada feeling kita sebagai orang beruntung. Kalkulator saya gak jalan. Kalau orang lain kalkulator jalan. Ada orang hebat banget, gak taunya mau pinjam duit. Untuk apa punya mobil mewah klo tidak bisa bayar cicilan. Ternyata semua karena life style.

 

(P): Apakah KOWAPI sebagai Bank simpan pinjam terbukti membantu wanita pengusaha?

(J): Pengaruhnya bisnis mereka berkembang. Banyak usaha yang berkembang. Saya pikir bantuan itu sebenarnya hanya kontak. Selanjutnya pengusaha harus mandiri. Kita juga harus bisa galak, bukan niat jahat sama orang. Kalau gak bisa ribet nanti. Sebagai contoh ada pengusaha kue, kemarin ke rumah saya bantu endorse, lumayan katanya banyak penjualan setelah itu. Ada lagi saudara saya bisnis pempek. Saya bantu juga. Alhamdulillah bisa bantu orang.

 

(P): Pusat Pendidikan IWAPI berdiri di tahun 1979, tetapi masa jabatan Pa Ali Sadikin tahun 1977?

(J) : Tahun 1977 kita dikasih, tahun 1978 mulai dibongkar lalu tahun 1979 diresmikan. Pak Ali menyerahkan kepada kita. Saya terharu banget ketika peresmian saya undang beliau. Pak Ali sempet ragu untuk datang karena memang kondisi politik ketika itu, tapi saya yakinkan beliau. Saya bilang sama Pa Sudomo akan mengundang Pa Ali. Disini saya katakan jangan takut dengan orang yang membantu kita. Meskipun pada saat itu Pa Ali sedang dibenci sama rezim.

(P): Pusat Pendidikan pernah berlokasi di Jalan Pangeran Antasari ya bu?

(J): Tidak, tidak pernah disitu. Rumah saya pernah juga dipakai untuk pendidikan. Bagi saya pendidikan dapat dimanapun karena pendidikan proses transfer pengetahuan. Pendidikan adalah pemberian pengetahuan buat orang lain. Pendidikan bukan kelas. Kita harus mendidik anak saya secara sederhana. Kita tidak boleh memperlihatkan kita tidak punya uang, tapi juga tidak boleh sombong. Beri bantuan kepada orang. Kita tidak perlu pakai baju atau barang yang mahal, tapi tidak membantu sama sekali. Jangan besar pasak daripada tiang dan susah membantu orang.

 

(P): Ibu Dewi disebut sebagai perintis sociopreneurs, pendapat ibu bagaimana?

(J): Bagi saya, ibu saya selalu mengingatkan untuk mengeluarkan 2.5%. bahkan kalau 50% untuk sedekah juga tidak apa-apa, nanti bisa balik kebaikan itu 700 kali. Seumur hidup saya, mungkin 10% saya bayar sendiri, sisanya di bayarain. Hal itu semua karena mereka butuh saya. Begitu juga dengan haji dan umroh. 12 haji dan 12 umroh saya hanya bayar sekali, sisanya dibayarin orang, baik sebagai pembimbing atau undangan. Subhanallah, semua berkah. Semua contoh, kalau kita tidak boleh hitung berbuat baik sama orang lain. Baik berupa kesehatan, jabatan, anak-anak, dan lain-lain. Jangan berhitung kalau mau baik sama orang.

 

(P): Bagaimana prinsip ibu dalam bekerja?

(J): Hal yang baik kerjakan segera, kalau mau marah tahan. Saya ingin tidak menyakiti orang lain. Saya berdoa tiap malam. Kita harus siap untuk mati. Harus siap kapanpun.

 

(P): Ide pendirian koperasi kan karena banyak yang pinjam Bu Dewi? Alasannya kenapa koperasi bu?

(J) : Saya percaya Bung Hatta punya ide yang baik. Bekerja bersama-sama, sama mencari untung, sama-sama bagi hasil. Itulah syariah menurut saya. Syariah yang dibuat oleh bank-bank disini belum syariah. Untung bagi dua, rugi tanggung sendiri. Mereka takut sama aku.

Bank sekarang tidak mencirikan syariahnya. Bung Hatta cuma berpikir orang semua sebaik dia, sebenarnya itu benar. Integritas harus diajarkan sejak dini. Itulah yang harus dibaca. Secara organisasi IWAPI dan KOWAPI memang berdiri sendiri, tetapi saling membantu. Ide saya yang melahirkan KOWAPI. Sejak tahun 2017, 2018 dan 2019 saya diangkat menjadi duta koperasi.

 

(P): Pada masa Bu Dewi adakah program yang ingin diwujudkan tapi belum dapat terrealisasi?

(J): Pemerintah membiayai atau memberikan bantuan kepada pengusaha untuk pameran di luar negeri dengan cara mencicil. Mereka bantu mempromosikan. Pengusaha diminta mengisi surat-surat, form, apa yang diminta orang luar negeri secara langsung. Pengusaha sebenaranya cepat belajar bila dikasih kemampuan. Mereka itu sebenarnya ulet asal dikasih kesempatan. Kalau mereka tidak mampu pasti nanti juga tidak akan bertahan. Sempat direalisasikan tapi tidak berjalan lagi. Termasuk Moko. Itu sudah ada idenya dari zaman saya sebagai IWAPI. Moko tahun 1992. Jadi orang tidak harus kaki lima. Namun, Pemerintah kurang dukungan, kalau bukan ide mereka, kadang mereka tidak mampu sehingga program itu berhenti.

 

(P): Kegiatan Bazzar di TMII pada masa ibu di IWAPI Jaya dikatakan sebagai usaha coba-coba saja, bisakah ibu jelaskan?

(J): Manusia ada ide, mau dapat murah kan tidak gampang, ternyata Bulog mendukung saya. Waktu itu dominasi Bulog luar biasa untuk beras, terigu, minyak. Ternyata ide saya didukung pemerintah. Dan ternyata kita bisa mendatangkan keuntungan untuk organisasi. Anak buah saya dapat distribusi langsung dan keuntungan untuk administrasi, dan berbagi antara KOWAPI dan IWAPI dibagi rata.