Skip to main content
Transkip

Bagaimana tentang kepengurusan IWAPI?

By January 25, 2019April 22nd, 2021No Comments

Wawancara Sejarah Lisan Dewi Motik Pramono (Ketua Umum IWAPI Periode 1982-1992)

Lokasi Wawancara: Jalan Surabaya No. 34-36 Menteng, Jakarta Pusat
Waktu Wawancara: Jum’at, 25 Januari 2019, Pukul 09.00 – 11.00

Pertanyaan (P): Bagaimana tentang kepengurusan IWAPI?

Jawaban (J): Saya dan kakak saya adalah pendiri, pemerkasa, atau bisa dikatakan sebagai penggagas lahirnya IWAPI.

 

(P): Awal ide pendirian IWAPI. bagaimana ide Bu Dewi dan Bu Kemala?

(J): saya praktisi ya gampang-gampang saja. Saya dan Kemala ambil Anggaran Dasar KADIN dan HIPMI. Kemudian saya lihat yang organisasi wanita. Kemudian saya kawinkan dengan KOWANI. Jadilah Anggaran Dasar IWAPI. Hari ini saya perhatikan IWAPI sangat tergantung dengan KADIN. Padahal sebenarnya tidak begitu. Kita adalah organisasi yang mandiri. Saya jalan sendiri, cari data sendiri.

 

(P): Apakah sebelum IWAPI terbentuk, ibu dan ibu Kemala telah bergabung dengan KADIN?

(J): Tidak. Setelah IWAPI terbentuk, barulah kami masuk ke KADIN dan KOWANI. Kami ambil visi misi orang pengusaha dari KADIN, semata-mata semua untuk memudahkan. Sebagai pribadi, saya masuk sebagai anggota KADIN. Ketika itu ada organisasi bisnis women tetapi milik luar negeri. Organisasi wanita pengusaha punya Indonesia pertama adalah IWAPI.

 

(P): Bagaimana Ibu Dewi terpilih sebagai Ketua Bidang Ekonomi IWAPI?

(J): Pengurus dipilih berdasarkan kemampuan masing-masing. Saya dari kecil, usia 9 Tahun sudah belajar tentang dagang. Pertama kali saya ikut lomba masak di Gelanggang Dagang Wanita di Lapangan Ikada. Gelanggang Dagang Wanita itu di kelola oleh Ibu Tumenggung. Semua waktu itu peserta lomba didampingi oleh orangtuanya. Hanya saya yang didampingi pembantu saya, namanya Saenah. Nah, Gelanggang Dagang Wanita inilah yang menginspirasi saya dan kakak saya. Wah kita harus bikin ini. Saya dan kakak saya kemudian mendirikan Gelanggang Dagang IWAPI.

 

(P): Gelanggang Dagang Wanita jadi pencetus ibu?

(J): Oh iya, saya senang banget liat Gelanggang Dagang Wanita. Kamu bisa bayangkan ketika itu, waktu itu kan belum ada tv. Baru ada Perusahaan Film Nasional (PFN). Aku di syuting. Dan ada Dewi di TV. Seluruh keluarga saya heboh. Ada dewi tuh di PFN. Itu sekitar tahun 1958. Seharusnya arsipnya masih ada ya. Kata ibu saya, juara saja kamu sangat beruntung. Pas pulang ibu saya ketawa karena nasi goreng yang saya bikin untuk lomba ternyata masih ada garam nya hahaha.

(P): Ibu tahu ada Gelanggang Dagang Wanita dari mana?

(J): Saya tahu Gelanggang Dagang Wanita dari surat kabar starweekly dan Indonesia Raya. Dari situlah saya dan Ibu Kemala merintis IWAPI. Kakak saya itu cantik, pintar dan beken. Dan disitulah saya bersyukur menjadi anak tengah. Ke atas, menghormati yang lebih tua. Ke bawah saya menyayangi adik saya. Adik saya ada lima. Saya senang melihat kakak saya yang pintar.

 

(P): Lalu motivasi Ibu Dewi dan Ibu Kemala dari mana?

(J): kami terinspirasi dari ayah kami. Ayah kan pengusaha. Pengurus PERWABI.

 

(P): Apakah ibu masih memiliki dokumen AD/ART IWAPI Tahun 1975?.

(J): Nanti saya coba carikan ya. Tentang nama IPWI saya langsung tanyakan kepada Prof. Alisyabana. Kata beliau DM dan MD, jadi sebenarnya tidak ada yang salah. Tapi untuk meredam semua masalah ya akhirnya diganti menjadi IWAPI.

 

(P): Tentang pergantian Ketua Umum IWAPI dari Bu Kemala ke Bu Dewi bagaimana prosesnya?

(J): Saya diminta untuk maju ke kongres, kemudian secara aklamasi saya terpilih sebagai ketua IWAPI, kemudian mengalahkan Moryati Soedibyo. Saya ketika itu berumur 25 tahun lebih dari 50% saya memenangkan pemilihan. kami berdua fight for IWAPI. Untungnya saya juga kan model jadi orang ingin datang kesana. Ibu Leony ini istri Bapak Radius. Jadi waktu umur saya 12 tahun, Ibu Leony minta saya untuk menari. Sejak saat itu saya dianggap anaknya beliau. Jadi saya gampang undang pejabat.

Ini foto-foto ketika saya masih di IWAPI (sambil menunjuk foto). Ini foto-foto ketika saya masih di Srilangka. Ini Ibu Rahmi Hatta. Ini Pak Sudomo. Pusat Informasi Wanita. Ini Ibu Mien Uno. Nah beliau aktif juga di IWAPI. kami pernah ke Belanda bareng. Kerja sama dengan Pak Jopp Ave. Saya ketemu Putri Fabiola. Ini seragam pertama saya. Kami masuk TVRI. Berita tentang Ekonomi Wanita tentang IWAPI masuk TVRI, tentang pengusaha, usaha kecil dan sebagainya.

Alhamdulilah semua keluarga dan mertua juga mendukung saya semua. Pertama ketika pembentukan IWAPI saya baru melahirkan Moza (putri pertama Dewi Motik). Saya setiap keluar kota membawa dia. Tahun 70an, hotel masih seperti losmen. Saya mandiin Moza pakai wastafel. Saya juga selalu minta disediakan pengasuh bila saya datang ke luar kota. Saya selalu ajarkan kepada anak-anak bahwa saya selalu sayang mereka. Mereka kadang-kadang saya bawa ke pabrik, supaya mereka tahu apa itu rapat. Saya bersyukur kita bisa ketemu. Saya sering malu pada diri sendiri.