Skip to main content
Transkip

Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya IWAPI?

By May 1, 2018April 22nd, 2021No Comments

Wawancara Sejarah Lisan Dewi Motik Pramono (Ketua Umum IWAPI Periode 1982-1992)

Lokasi Wawancara: Jalan Surabaya No. 34-36 Menteng, Jakarta Pusat
Waktu Wawancara: Selasa, 1 Mei 2018, Pukul 14.00 – 15.00

Pertanyaan (P): Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya IWAPI?

Jawaban (J): Sejarahnya sebenarnya sederhana sekali. Saya anak BR Motik yang merupakan putra dari Pangeran Abdurahman dari Lahat. Ibu saya putri kedua pangeran Danal dari Muara Enim. Saya ingin menyampaikan ini ingin menunjukkan bahwa kami dari keluarga birokrasi. Saya bersyukur kedua orang tua saya tidak dibesarkan lama-lama di daerah. Pada usia 15 tahun ayah sudah ke Jakarta, dia sadar kalo lama-lama di daerah maka tidak akan jadi apa-apa. Sedangkan kakak ayah kelak akan ditakdirkan menggantikan posisi ayah mereka sebagai pasirah. Di Jakarta, ayah berjuang menjadi guru di kweekschool dan Taman Siswa. Akhirnya pada tahun 1942 ayah mendirikan Persatuan Warung Dagang Indonesia (PERWABI). Di PERWABI inilah ayah merasakan sebagai entrepreneur dimana ia bisa mengelola sembilan bahan pokok. Sedangkan ibu sejak kecil sudah ditinggal meninggal oleh ibunya. Ia adalah seorang putri yang tidak pernah kemana-mana, persis seperti upik abu. Nah, disinilah ibu sadar bahwa ia harus keluar dari keadaan ini. Ayah mendengar kabar bahwa ada seorang putri cantik jelita yang tidak kemana-mana. Ayah kemudian meminang ibu. Jadi, jiwa entrepreneur sudah ada di jiwa orang tua saya. Saya tidak pernah diam, kalo ada persoalan saya harus mencari jalan keluar, way out. Pada usia SMP saya sudah punya uang sendiri, kebetulan rumah kami di Jalan Banyumas, Menteng tidak jauh dari Kedutaan Amerika Serikat. Nah ibu saya sering belajar memasak bersama ibu-ibu disana. Setiap ibu pulang membawa resep baru buatan Amerika, saya selalu meniru. Orang tua saya memang mengajarkan bahwa saya harus punya uang sendiri, you have to make your own money. Melihat resep itu, dalam hati saya, saya berpikir saya juga bisa ikut. Saya memang pakai bahan yang tidak sama seperti ibu. Saya pakai tepung Indonesia kalau ibu pakai tepung luar.

Kebetulan ibu juga sering mengentertain teman-temannya dengan mengajak ke rumah. Mereka senang dengan buatan saya. Kuenya lembut. Ya saya kadang pakai susu adik saya supaya adonan menjadi lembut. Pembantu juga banyak membantu saya. Saya jual Rp. 5000,- semua pada bertanya siapa yang membuat kue itu. Nah disinilah saya juga bersyukur, kedua ayah saya tidak ada perasaan malu atau apapun, ayah malah berkata good Dewi. Dari sini saya punya uang saku sejak SMP. Saya senang uang baru.

Kemudian saya ke Amerika, saya ambil Seni Rupa. Disitu saya bertemu banyak orang tua angkat. Saya memiliki tiga orang tua angkat. Saya tetap saja tidak bisa diam, setelah kuliah saya bekerja sebagai waiter, saya dapat uang banyak dan saya bisa makan disana. Yang paling penting saya bisa belajar berbagai menu Amerika disana. Saya belajar berbagai masakan Amerika. Disitulah saya merasa bersyukur. Pada bulan September, saya membawa cincin-cincin dari Bali. Saya buka di kamar saya, semua pada menyerbu, padahal saya tadinya mau ngasih. Dari situ otak saya semakin mikir. Saya banyak uang, sekolah saya juga tetap terjaga dengan baik. Hal lain yang saya ingat ketika SMA adalah ketika kakak saya Kemala (Kemala Motik) belajar di Amerika, ia banyak mengirim majalah Sevententh. Kemudian saya tiru aja model- model sepatu yang lagi trend ketika itu. Jadi ketika orang-orang belum punya, saya sudah punya sepatu model yang sedang populer ketika itu. Kalau kita maju sebenarnya ada jalan. Saya bisa jual barang dari bazzar. Bahkan saya menyuplai semen untuk pembangunan jalan. Waktu kakak saya pulang, ia mengajak saya untuk mendirikan IWAPI. Mudah saya kita ambil saja AD/ART HIPMI, KADIN. Kita langsung ke notaris untuk meresmikan.

(P): Waktu IWAPI didirikan apakah ada dukungan pemerintah?

(J): inilah salah satu yang saya syukuri. Kami sebagai anak muda kan memang tidak pernah takut. Surat kabar seperti Suara Pembaharuan, Kompas, Indonesia Raya mendukung kami semua. Terkenal waktu itu dua saudari pemberani mendirikan IWAPI. Ada seorang tokoh yang saya tidak akan pernah lupa karena sangat berjasa untuk IWAPI yaitu Bapak Ali Sadikin (Gubernur DKI pada masa itu). Beliau mempersilahkan kami untuk menggunakan sebuah rumah di Jalan Kali Pasir, Cikini sebagai tempat IWAPI. Rumah itu memang sudah bobrok. Nah dari situlah kemudian saya mencari uang. Dan kemudian menjadi tempat pendidikan IWAPI. Di sisi lain saya juga sangat bersyukur, saya mendapat dukungan dari Ibu Presiden, Ibu Tien Soeharto sangat lembut orangnya. Saya mengenal dia sebagai sosok yang rendah hati dan tidak sombong. Tapi begitu beliau buat ide, beliau sangat bagus dan rapih sekali. Saya di IWAPI pertama di tahun 1975 sampai 1982, kemudian saya dua periode menjadi Ketua Umum IWAPI, yakni 1982-1992. Setelah itu saya turun dari IWAPI. Pegangan saya adalah kata-kata ayah saya, “Turun, lepaskan saat orang masih mencintainmu”. Saya kemudian di boikot oleh teman-teman yang mengharapkan saya masih duduk sebagai ketua IWAPI. Ayah saya bilang, cari posisi lain, percayalah jangan sampai orang bosan dengan kamu. Jadi meskipun didesak saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Kenapa teman-teman senang saya sebagai ketua. Harus kita pahami bahwa seorang ketua haruslah melayani. Rumah ini seperti headquarter. Saya sampai buatkan tangga di samping agar suami dan anak-anak saya bisa langung ke kamar sehingga mereka tidak terganggu dengan kegiatan ibu-ibu di bawah. Rumah ini sering dipakai untuk rapat komisi dan kegiatan IWAPI. Saya sengaja memang mendesain rumah ini untuk menunjang kegiatan IWAPI. Memang kami punya kantor pusat, tapi kalau rapat disini kan gampang kalau mau pada makan, tinggal saya nyuruh pembantu untuk membuatkan. Kalau disana kan harus cari dan membeli makanan dulu.

(P): Ketika awal didirikan, bagaimana kategori wanita pengusaha yang bergabung dengan IWAPI?

(J): Dari dulu sampai sekarang. Ibu Hany Malkan bergerak di travel biro, Ibu Herawati Diah memiliki bisnis perhotelan dan surat kabar, Ibu Sitompul di bidang pertokoan, Ibu Abdul Kadir memiliki usaha batik. Kita dulu sampai sekarang bidang usahanya macam-macam. Nah saya juga dari awal terpilih sebagai duta UKM, banyak membantu wanita pengusah kecil yang jumlahnya banyak. Ibu Moeryati Soedibyo juga awalnya merintis dari bisnis garasi dan Ibu Marta Tillar bermula dari koper dan kosmetik. Sekarang bisnis mereka sudah semakin besar.

 

(P): Ketika ibu menjabat sebagai ketua IWAPI, program-program apa saja yang ibu lakukan?

(J): Pertama adalah bidang pendidikan. Pusat pendidikan IWAPI yang di Kali Pasir sudah menghasilkan banyak orang. Kedua adalah bidang ekspor dan impor. Kita membantu pengusaha yang ingin melakukan ekspor/impor. Bagaiman cara mengisi formulir dan sebagainya. Kita juga bersahabat dengan dunia perbankan. Jadi anggota kita semakin banyak dan berkembang. Di tahun-tahun pertama, kita juga langsung masuk ke Kamar Dagang RI (KADIN). Saya sebagai bidang pariwisata dengan Pak Joop Ave. saya mendapat dukungan membawa rombongan ke Thailand, Malaysia, Madrid. Bapak Joop Ave sahabat atase militer. Saya minta bantuan Pak Joop Ave kemudian Ratu Juliana. Kita tidak bisa sombong. Dewi Motik ditelepon istana, dan Queen will be arrive.

(P): Setelah IWAPI bergabung dengan Kadin, adakah kebijakan-kebijakan baru yang dihasilkan?

(J): Saya tidak tergantung kepada orang. KADIN mendukung kita 100%. Saya satu-satunya perempuan dari 36 tahun yang lalu dan tetap bertahan. Saya selama 5 tahun sebagai satu-satunya perempuan disitu. Saya satu-satunya perempuan yang membuka ice breaking.

 

(P): Selama memimpin IWAPI, adakah kendala yang ibu hadapi?

(J): Oh sangat banyak. Pertama kita kan pelayan, orang dari daerah kadang tidak mengerti keadaan minta dijemput. Orang kadang memandang saya dekat dengan orang penting jadi memiliki kemudahan untuk meminta kepada mereka. Itukan tidak mungkin, bagaimanapun saya harus melalui sekretarisnya. Saya kan juga muda, meskipun saya gak genit-genitan tapi nanti kan apa kata orang. Saya merasa banyak kemudahan yang dianugerahkan Tuhan. Orang tua saya sangat open terhadap orang-orang.

 

(P): Ayahanda ibu (Bapak Motik) dalam bukunya pernah mengatakan bahwa “Anakku Mala berusaha menghapus kesan IWAPI hanya sebagai tempat kumpul ibu-ibu saja”. Bagaimana pandangan ibu tentang pernyataan ini?

(J ): Saya kampanye kepada orang terus-terusan kepada semua orang. Panutan saya adalah Siti Khadijah. Itu adalah uminya seluruh umat Islam, mengatakan tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Beliau adalah seorang entrepreuner. Beliau putri bangsawan telah melakukan jihad di bidang usaha. Kita sebagai wanita kalo pakai otak sedikit dapat mensejahterakan keluarga tanpa melawan suami yang baik.

 

(P): Tahun 1984 IWAPI mendirikan Koperasi Iwapi (Kowapi) yang berlokasi di Kramat Raya ya bu?

(J): Iya tapi sekarang sudah berdiri beberapa cabang lagi.

 

(P): Pada tahun 1991, ibu juga membuat penelitian mengenai Peran wanita pengusaha dalam pembangunan. Bagaimana hasil penelitian tersebut?

(J): Dari hasil penelitian saya dapatkan kesulitan wanita memperoleh pinjaman. Dulu kalau mau pinjam duit wanita tidak bisa harus persetujuan suami. Padahal suami terkadang tidak tahu apa-apa. Itu kan suatu kesalahan besar. Sebenarnya laki-laki dan wanita tidak ada bedanya. Hanya saja wanita memang kebih beban karena harus mengurus anak. Nah sekarang kan terjawab dengan kemudahan online. Ya udah sekarang kita harus ikut. Cari informasi lebih langsung. Kita harus smart dalam teknologi.

(P): Ibu Dewi dan Ibu Kemala mengelola IWAPI dengan dukungan penuh keluarga?

(J): saya ijin kepada ibu saya ketika kami diberikan rumah oleh Pak Ali Sadikin. Teman-teman sempet bingung, waduh uang dari mana. Saya cari asalkan jangan diganggu. Pertama-pertama saya pinjam uang sama ibu saya 100 juta. Jadi dibangunlah gedung itu.

 

(P): Bagaimana awal mula cabang-cabang IWAPI berkembang?

(J): Yang pertama kita buka adalah IWAPI cabang Bandung dan Jogyakarta, terus langusng ke Jawa Timur. Pengurus IWAPI Jakarta kemudian naik ke IWAPI pusat. Setalah itu, semua daerah menyambut IWAPI sampai sekarang sudah 34 cabang. Sekarang kalau saya mau ke daerah, IWAPI menyambut saya. Saya terus bergerak mengupdate ilmu saya. Saya di IWAPI, De Mono, KOWANI. Sampai sekarang saya memang selalu mencurahkan hidup di bidang pendidikan dan entrepreneur. Saya mencintai mahasiswa saya, my students is my future.

 

(P): Pada tahun pertama Ibu Kemala menjadi ketua, lalu ibu Dewi menjabat apa dalam struktur organisasi IWAPI?

(J): Saya sebagai ketua umum IWAPI Jakarta dan Ketua Bidang Ekonomi ketika ibu Kemala sebagai Ketua IWAPI pusat. Kakak saya orangnya pintar, beliaulah yang banyak memberikan ilmu kepada saya. Kita sebagai Dwi-Motik yang cepat sekali bekerja. Saya kemudian yang mencari sponsor, menelepon berbagai pihak. Kebetulan saya sebagai guru dan motivator jadi saya lebih dapat meyakinkan orang.

 

(P): Menurut Bu Dewi bagaimana IWAPI menghadapi tantangan ke depan?

(J): IWAPI akan berjalan selama ketika ketua dan pengurus saling mendukung, saling memberikan informasi, saling mengalah, saling memberikan kabar baik, bukan justru saling melemahkan satu sama lain. Setiap orang tidak ada yang sempurna yang ada tim yang sempurna karena masing-masing saling mengalah dan mendukung. Kalau ada orang yang buat kesalahan, baiknya segera kita ganti. Kita juga harus terus belajar.

 

(P): Angota IWAPI sekarang sudah 400.000 lebih. Kategori wanita pengusaha apa yang menjadi anggota IWAPI?

(J): Presentasi banyak yang menengah dan kecil, seperti UKM. Menurut saya itu bukan persoalan yang penting substansinya. Kalau kita menjadi penguasa maju, kenapa tidak, bisa banyak memberi kepada orang lain.

(P): Setiap tahun ibu dan kawan-kawan menyelenggarakan Gelangang Dagang IWAPI terbesar , itu dimana ya bu?

(J): Saya membuat Gelanggang Dagang IWAPI setiap tahun dibuka oleh Ibu Tien dan Pak Harto di Istora dan JC Hall. Saya membuat fashion show busana muslim pertama, saya memiliki dokumennya. Saya ketika itu berumur 26 tahun, sebelum IWAPI berdiri kemudian kegiatan ini masuk dalam kegiatan IWAPI. Saya diminta Departemen Agama membuat ini, kalau ada MTQ saya juga menyelenggarakan fashion show pakaian muslimah.

(P): Harapan Ibu terhadap IWAPI ke depan bagaimana?

(J): Saya yakin IWAPI survive, selama kita terus bekarya, sebagaimana saya yang terus berkarya. Jangan kita merusak kepercayaan orang. Itu kunciya. Panutan saya adalah Siti Khadijah yang sukses sebagai seorang entrepreneur.