Perjalanan perempuan Indonesia dalam dunia kecantikan dan pemberdayaan memiliki banyak cerita menarik. Dua di antaranya hadir melalui sosok Martha Tilaar dan Dewi Motik Pramono, yang menempuh jalan berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan jejak dalam perkembangan perempuan Indonesia.
Pada 1976, Dewi Motik Pramono menjadi model untuk perawatan kecantikan Sari Ayu, bagian dari perjalanan Martha Tilaar dalam mengembangkan produk kecantikan yang terinspirasi oleh kekayaan tradisi Indonesia.
Lima tahun kemudian, pada 1981, Dewi Motik menyelenggarakan Pemilihan Puteri Ayu untuk memperebutkan Piala Tien Soeharto. Ajang ini menjadi bagian dari perjalanannya dalam menghadirkan ruang bagi perempuan Indonesia untuk menunjukkan potensi dan kepercayaan diri.
Martha Tilaar dan Kecantikan Berbasis Tradisi Indonesia
Martha Tilaar dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan industri kecantikan Indonesia. Melalui Sariayu, ia mengembangkan pendekatan kecantikan yang mengangkat bahan alami, perawatan tradisional, serta kekayaan budaya Nusantara.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa tradisi Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi bagi produk kecantikan modern. Pengetahuan mengenai perawatan tubuh dan penggunaan bahan alami yang diwariskan dari generasi ke generasi memiliki nilai yang dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.
Perjalanan Martha Tilaar juga memperlihatkan bagaimana kecantikan dapat menjadi bagian dari pengembangan usaha dan pengenalan identitas Indonesia melalui produk lokal.
Dewi Motik Pramono dan Ruang bagi Perempuan untuk Berkembang
Sementara itu, Dewi Motik Pramono dikenal melalui kiprahnya di bidang kewirausahaan dan pemberdayaan perempuan. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perempuan menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk mendorong perempuan agar lebih percaya diri dan berani mengembangkan potensinya.
Penyelenggaraan Pemilihan Puteri Ayu pada 1981, dengan memperebutkan Piala Tien Soeharto, merupakan salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Ajang seperti ini dapat dilihat dalam konteks sosial pada masanya, ketika penampilan, kepribadian, dan kemampuan membawa diri menjadi bagian dari ruang publik yang tersedia bagi perempuan.
Namun, perjalanan pemberdayaan perempuan tidak berhenti pada penampilan fisik. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan, membangun usaha, mengembangkan keterampilan, dan mengambil peran dalam masyarakat juga menjadi bagian penting dari upaya memperluas kesempatan bagi perempuan.
Dua Jejak, Satu Bagian dari Sejarah Perempuan Indonesia
Kisah Martha Tilaar dan Dewi Motik Pramono memperlihatkan dua jalur yang berbeda. Martha Tilaar mengembangkan kecantikan dengan mengangkat tradisi Indonesia, sedangkan Dewi Motik menempuh perjalanan melalui kewirausahaan dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan perempuan.
Keduanya menjadi bagian dari cerita yang lebih luas mengenai perempuan Indonesia yang membangun peluang melalui bidang yang mereka tekuni.
Dari produk kecantikan yang terinspirasi oleh tradisi Nusantara hingga ajang yang menghadirkan perempuan ke ruang publik, setiap perjalanan menyimpan konteks dan makna tersendiri.
Mengenang kedua kisah ini bukan hanya tentang melihat kembali peristiwa masa lalu, tetapi juga tentang memahami bagaimana perempuan Indonesia terus mencari ruang untuk berkarya, membangun usaha, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.