Oleh Agil Samal –

Saya mengenal Tante Dewi ketika pertama kali dikenalkan oleh Mamah (Alm) di jalan Surabaya tahun 2008, jelang pernikahan saya dengan Ni’ ketika itu Mamah mengantarkan saya dengan Ni’ untuk memberitahukan rencana pernikahan kami yang akan dilangsungkan pada 2 Agustus 2008.

Kami diterima Oom Pram dan Tante Dewi di beranda belakang , sambil  menikmati kudapan yang tersaji di meja makan sore itu, obrolan ringanpun diawali oleh  Mamah dengan memperkenalkan diriku kepada Oom Pram dan Tante Dewi.

“Agil dari Ambon, marganya Apa ?” tanya Tante Dewi kepada ku. “Papaku Samal, Mama Sangadji,.. Tante.” Jawabku. “kalau dengar Sangadji, saya ingatnya preman saja” sambung Tante Dewi sambil tertawa kecil.  Ungkapan itu terasa geli dan lucu bagi saya karena mungkin itulah  gaya ceplas ceplos Tante Dewi yang pertama kali kukenal secara dekat. Memang karena profesiku sebagai jurnalis, ini bukan kali yang pertama berbicara dengan Tante Dewi, beberapa tahun sebelumnya saya sempat beberapa kali mewawancarai Tante Dewi tentang wanita dan dunia usaha. Dan hingga saat itu tak kusangka bahwa akhirnya kami berlima duduk diberanda belakang dalam rangka pernikahan saya  dengan salah satu anggota keluarga Soekasno.

Dalam perjalanan beberapa tahun kedepan, saya pun semakin mengenal Tante Dewi sebagai Orang Tua  apalagi setelah berpulangnya Mamah ke rahmatullah, Tante Dewi  bagi Saya dan Ni’ serta keluarga Oetomo merupakan salah satu sosok pengganti orang tua kami.   Ada hal yang patut kita syukuri, Tante Dewi dan Oom Pram selalu berupaya untuk merangkul semua keluarga dan ingin mempersatukan kami, baik itu dari pihak keluarga Motik ataupun keluarga Sukasno. Setidaknya secara periodik kami berkumpul setiap hari pertama di bulan Ramadhan  untuk bersilaturahmi, berbuaka puasa bersama dan sholat berjamaah di kediaman Jalan Surabaya. Sementara untuk setiap lebaran tepatnya tanggal 2 Syawal, Tante Dewi selalu menyediakan tempat di bilangan Setia Budi tepatnya di komplek sekolah Arrahman sebagai ajang silaturahmi keluarga besar Djogodimedjo. Bagi saya ini merupakan suatu  contoh dari orang tua seperti Tante Dewi  yang patut diteladani dan dilanggengkan.  Sosok Tante Dewi  dengan segudang pengalamannya di dunia organisasi dan usaha, namun tidak membuat Tante Dewi menjadi tinggi hati kepada siapapun. Saya sebagai jurnalis, seorang Dewi Motik merupakan nara sumber yang baik bagi kami karena untuk membuat janji tidak terlalu susah terkadang kita bisa langsung melakukan interview on the spot selama Tante Dewi masih punya waktu.  yang paling kuingat adalah setiap kali berjumpa Tante Dewi dilapangan dalam tugas jurnalistikku, Tante Dewi dengan bangga selalu memperkenalkanku “ ini keponakanku lho” tegas Tante Dewi kepada siapapun termasuk ke Rosiana Silalahi dalam suatu kesempatan. “kok bisa gil” tanya Rosi setengah tidak percaya.

Hal lain yang tak luput dari amatan,  Tante Dewi merupakan sosok yang  kritis terhadap sekelilingnya, termasuk kepada kami, para keponakanpun  tak luput dikritisi dengan gaya Tante Dewi yang khas. Sesekali ketika saya dan Ni’ mampir di kediaman Jalan Surabaya, kebetulan Tante Dewi ada disana dan dalam obrolan kami dengan beliau, pasti selalu ada hal hal yang disampaikan Tante Dewi terutama kepada dekadensi yang terjadi dalam lingkup kecil hingga  bernegara.

Dalam usianya yang 68, kami selalu berdoa semoga Allah selalu melimpahkan rahmatNya kepada Tante Dewi, kepada Oom Pram yang selalu berada menemani  Tante Dewi.semoga Tante Dewi selalu diberi umur yang panjang , dikaruniai kesehatan  dan sisa hidupnya selalu menjadi tauladan bagi anak, cucu dan keponakan. Terima kasih Tante Dewi telah beri panutan bagi kami. Selamat ulang tahun Tante Dewi. (agsml)