Oleh Linda Agum Gumelar –

Kedua orangtua saya sudah kenal dengan kedua orangtua mbak Dewi, bahkan Ibu saya almarhumah Hj. Ny. Rooslila A. Tahir juga akrab dengan kak Kemala Motik (kakak dari mbak Dewi). Boleh dibilang kami kenal dengan kakak beradik keluarga Motik.

Kedekatan dengan mbak Dewi dimulai sekitar tahun ‘90 an saat beliau masih belum berhijab yang tampil dengan rambut panjangnya yang lebat dan hitam. Kami menjadi lebih dekat lagi sejak bersama-sama duduk di Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) tahun 2004 – 2009 saat itu saya sebagai Ketua Umum dan mbak Dewi sebagai salah satu Ketua, setelah itu di tahun 2009 mbak Dewi terpilih menggantikan saya sebagai Ketua Umum KOWANI tahun 2009 – 2014, kami terus bekerja sama baik dalam hubungan ber organisasi untuk meningkatkan upaya pemberdayaan perempuan maupun dalam hubungan pribadi kedua keluarga.

Ciri khas seorang Dewi Motif yang saya amati adalah mbak Dewi orangnya spontan dalam menyampaikan pemikiran, cepat dalam “action”nya dan cerdik. Beliaupun punya akses yang luas serta suka bersilaturahim.

Ada satu pengalaman kecil yang saya anggap cukup “cerdik” dari mbak Dewi.

Suatu waktu di tahun 2006 Rombongan KOWANI menghadiri pertemuan di Kiev – Ukraina dalam rangka kegiatan International Council of Women (ICW) yang KOWANI menjadi salah satu anggotanya.

Pada acara Gala Dinner yang dihadiri oleh istri Presiden Ukraina kala itu, saat kami bersiap untuk berangkat, saya selaku Ketua Delegasi menunggu bergabungnya mbak Dewi di lobby hotel. Saat beliau bergabung, saya lihat mbak Dewi sudah tampil anggun sekali dengan hijab batik karya Iwan Tirta yang “di kemas” sedemikian rupa oleh mbak Dewi, sehingga menjadi sangat “eye – cathing” atau menarik. Ternyata kecerdikan beliau membuahkan hasil, besok paginya di salah satu koran terbitan Kiev muncul kolom wawancara tentang hijab batik Iwan Tirta yang dikenakan oleh mbak Dewi Motik.
Untuk menggambarkan sosok Dewi Motik dimata saya, ada satu cerita yang saya tidak pernah lupa tentang mbak Dewi.

Saat itu di bulan Mei tahun 2009, ibunda saya tercinta sudah beberapa minggu dirawat di RSPAD Gatot Subroto dan kondisi kesehatan beliau terus menurun. Mbak Dewi sempat beberapa kali menjenguk ibu dari mulai masih bisa berkomunikasi sampai dengan ibu saya masuk ICU dan tidak bisa berkomunikasi lagi.

Sehari sebelum ibu saya meninggal di pagi hari setelah sholat subuh mbak Dewi datang dengan membawa air zam-zam, kebetulan kami yang menjaga ibu sedang ke kamar untuk sholat, mbak Dewi sendirian di ruang ICU, beliau membacakan doa-doa untuk ibu saya dan setelah selesai mbak Dewi meninggalkan ICU tanpa bertemu dengan keluarga.

Sungguh kami terharu, saya lihat bahwa sosok seorang Dewi Motik bila hatinya sudah sangat dekat dengan seseorang maka dia akan setia dan menunjukkannya dengan cara-cara yang luar biasa.

“Selamat Ulang Tahun yang ke 68 “ doa kami sekeluarga semoga Allah SWT memberikan Rahmat dan lindunganNya buat mbak Dewi bersama mas Pram, anak, menantu dan cucu-cucu !! “
(lagm)