Delegasi Indonesia Ikut Konferensi Wanita PBB se Dunia ke-58

Setiap tahun, konferensi tingkat dunia UN-Women diikuti ratusan delegasi dari berbagai negara. Termasuk dua puluh peserta dari Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang di pimpin Dewi Motik Pramono. YERI VLORIDA

RANGKAIAN kegiatan yang diikuti delegasi Indonesia berlangsung 10-20 Maret 2014, PBB mengadakan Konferensi Wanita se dunia yang ke-58 di New York. Selain De wi Motik, tim Indonesia juga diikuti Diana Mu zamill, Uli Silalahi, Farahdiba Tenri lem ba, Moza Pramita. Serangkaian kegiatan diikuti peserta selama agenda berlangsung. Menurut Dewi Motik, Kowani adalah satu satunya organisasi wanita Indonesia yang diakui oleh PBB.

Sebab kehadiran delegasi merupakan sebuah kewajiban. Selama berjalannya konferensi serta diskusi antar bangsa memberikan informasi mengenai peranan wanita dalam kemajuan dan kesejahteraan negara tersebut. Contoh sukses sebuah negara disampaikan oleh pe jabat negara Korea Selatan HyungJoon Kim yang mengatakan tentang kesuksesan kesetaraan gender. Di Korea Selatan, persoalan tersebut maju pesat karena didukung dan dikampanyekan oleh pria juga.

majukan kesetaraan gender dan sejahterakan bangsa

Sehingga kesadaran un tuk memberikan dukungan kesempatan un tuk wanita lebih berkarya merupakan tanggung jawab kedua belah pihak. Kesetaraan gender merupakan kendaraan utama bagi sebuah bangsa untuk meraih Millenium Developtment Goal. Sebab itu se tiap delegasi negara diharapkan dapat me lakukan sebuah program yang diperuntukkan untuk memajukan peran wanita diberbagai pihak Menurut dia, salah satu program yang telah dilakukan Kowani adalah memberikan pelatihan kepemimpinan secara berkala untuk perempuan secara gratis.

”Hal ini dilakukan untuk mendidik gene rasi penerus yang kokoh sebagai pemimpin bangsa,” katanya. Harapan kedepannya, lebih banyak wa nita yang berperan secara menyeluruh dan menjadi sosok yang mengayomi ge nerasi penerus sebagai pemegang kun ci kesuksesan meraih Millenium Goals Developtment. UN-Women 2014 merupakan konferensi global terakhir, sebelum konferensi momentum penentuan hasil perjalanan selama 25 tahun sejak pencanangan MDG’s di Beijing’s Platform tahun 1990.

Ka renanya konferensi tersebut, mene gaskan hasil pencanangan MDG’s yang be lum mencakup kesetaraan gender di ber bagai negara. Selain itu, delegasi Indonesia Moza Pra mitha sat di hubungi Indo Pos menguraikan bahwa berbagam agenda dibahas dalam pertemuan tinggat dunia itu. Indonesia sebagai negara berkembang dinilai berepan penting dalam pembangu nan terutama pemberdayaan perempuan dan anak.

Sebelumnya, Moza juga pernah mengikuti kongres organisasi wanita dunia yang sudah berdiri sejak tahun 1888, yakni International Congress of Women (ICW). Organisasi tersebut beranggotakan ratusan negara dari benua Eropa hingga Afrika. ”Untuk Indonesia, Ko wani menaungi ratusan organisasi di Indonesia terdaftar sebagai perwakilannya di ICW di Seoul Korea Selatan yang selanjutnya tahun lalu digelar di Barcelona Spanyol,” katanya.

Korea Selatan merangkul para delegasi untuk menyerap ilmu pemahaman pe ran Gender untuk kemajuan sebuah ne gara. Terbukti 20 tahun terakhir, negeri gingseng tersebut mendorong peran perempuan dalam berbagai bidang, jumlah mahasiswi mencapai 87 persen. ”Ini membuktikan perempuan berperan kuat pada kemajuan sebuah negara,” katanya. Kisah sukses Korea Selatan itu merupakan inspirasi untuk negara berkembang lainnya.

Bahkan terdapat beberapa Institut negara yang mengkhususkan me riset mengenai peran gender tersebut. Salah satunya, Korean Institute for Gender Equality Promotion and Edu cation (Kigepe). ”Intinya siapa pun dapat bergabung dengan organisasi di negara nya dan berkesempatan menjalin hubungan internasional dengan organisasi negara lain,” ungkap Moza. (*)

source: http://www.indopos.co.id