Ya, Nabi Muhammad SAW, di Masjidil Haram, kau terbuai tertidur lelap,
Tiba-tiba Malaikat Jibril datang mengucap,
Datang perintah Ya Malik yang kuasa,
Untuk membawa kau terbang ke angkasa.
(Cintaku, Tuhanku – Isra’ Mi’raj)

Sederhana, memang sederhana bentuk katanya,
Pendek, memang pendek sebutan katanya,
Oh, alangkah sulit untuk mengungkapkannya.
(Cintaku, Tuhanku – Maaf)

Duli paduka tuan tahta raja, Patih, menteri cakap luar biasa.
Hulubalang kukuh menjaga Setiap perintah siap terlaksana.
Tampak takluk patuh semua.
(Cintaku, Tuhanku – Nikmat-Nya)

Mengapa engkau tidak mencoba mengikuti sifat
Pemilik tunggal Maha Mengerti
Maha penyabar
Maha pegampun
Sehingga api cemburu dapat hilang sekejap
(Cintaku, Tuhanku – Cemburu)

Engkau bersembunyi di sudut terdalam di kalbuku,
Engkau bercumbu, bergelut dalam relung hatiku
Engkau adalah sahabat setiaku nan pribadi
(Cintaku, Tuhanku – Sahabat Sanubari)

Dia menciptakan asalku dariMu, hingga seutuh badan,
DItiupkan-Nya napas kehidupan,
Apa yang dapat aku angkuhkan dan sombongkan,
Setelah badan tak utuh dan tak berjiwa,
Daku kembali bergulat riuh dengan cacing dan….. ulat jua.
(Cintaku, Tuhanku – Tanah, Tanah, Tanah). Hlm. 79

Mabuk, mabuk, mabuk aku dibuat rahasia-Mu,
Gila, tergila-gila aku akan rahasia-Mu,
Makin banyak yang kudapat, makin mabuk aku membongkar Rahasia-Mu.
Memang rahasia-Mu, tak akan ada habis Ujungnya Sampai Akhir Zaman ….
(Cintaku, Tuhanku – Rahasia-Mu). Hlm. 33

Hati nurani akan menolak siaga keras
Bila engkau berdusta dan berbuat ganas,
Apalagi membuat rakyatmu menderita teraniaya,
Peraturan salah kau buat, menggilas rakyat tak berdosa.
(Cintaku, Tuhanku – Hati Nurani). Hlm. 63

Samar-samar terpancar Nur Ilahi,
Hasrat, semangat hidup, muncul kembali,
Makin lama makin membesar
Menyinari dari atas sampai dasar
Oh, Tuhan, bimbinglah bidukku ini
Sampai cita-citaku tercapai nanti.
(Cintaku, Tuhanku – Nur Ilahi). Hlm. 65

Air panas membakar sekujur tubuhmu,
marah menjilat kian ke mari setiap sisi tulangmu,
tinggi membumbung asap debu,
hawa panas pengap menguap abu,
Sadarlah tuan, bahwa engkau ….
Tak dapat memiliki seseorang seutuh-utuhnya,
(Cintaku, Tuhanku – Cemburu). Hlm. 91

Kau adalah pakaian pria, kau … landasan bangsa
Kau adalah tiang Negara, kau … pondasi masa
Kau adalah sumber cinta, kau … pendidik ananda
Kau adalah sumber karya, kau … lemah lembut tapi sahaja
Kau adalah sumber keluarga, kau … ratu rumah tangga
Ibunda, bunda, bunda, bunda kau wanita,
Kau sumber segala di dunia nyata dan fana
Di telapak kakimu Sorga berada …
(Cintaku, Tuhanku – Wanita). Hlm. 93

Beribu-ribu jalan menuju satu
Separoh ditambah separoh menjadi satu
Sebelas dikurangi sepuluh menjadi satu
Seratus satu dikurangi sepuluh menjadi satu
Memang beribu-ribu jalan menuju satu
Asal melalui titian jalan yang kau ridai
Ya, Cintaku, Tuhanku.
(Cintaku, Tuhanku – Cermin Diri). Hlm. 127

Hidup adalah pada maut bermuaranya,
Hidup adalah pada maut pelepasannya
(Cintaku, Tuhanku – Maut)hlm. 87

Guru selalu menjadi tumpuan harapan,
Kau dianggap makhluk prima
Yang tak mengenal alpa
(Cintaku, Tuhanku – Guru). Hlm. 119

Guru, kau adalah pejuang yang tak mengenal pujian
(Cintaku, Tuhanku – Guru) hlm. 119

Daku yakin, teman
Perbedaan hanya setiis kulir luar saja
Jangan memperuncing berbedaan, teman
Tetapi justru dengan perbedaan kita tuju
Kebersamaan (Cintaku, Tuhanku – Perbedaan menuju Perdamaian)
Kekuatan tekad adalah modal yang tak dapat dinilai
(Cintaku, Tuhanku – Kekuatan Tekad)

Jalankan perintah Tuhan yang maha Perintah
Dengan kedisiplinan yang dalam di lubuk hati
(Cintaku, Tuhanku – Disiplin Nasional) hlm. 151

Jadilah sekali-kali penonton yang baik
Menilai diri sendiri dengan khusuk dan tenang
Menjadi pemenang dalam melawan diri sendiri adalah Pemenang yang sejati
(Cintaku, Tuhanku – Tersingkir) hlm. 157

Besar atau kecil kasih yang diberikan
Jangan menjadi ukuran
Tabu mengucapkan “Terima Kasih” itu landasan
Sehingga kelak hubungan kasih mengasihi,
Sesama insani
Selalu terjaga nanti.
(Cintaku, Tuhanku – Terima Kasih) hlm. 161

Buku, buku, buku kau adalah guru sekolah abadi.
(Cintaku, Tuhanku – Buku) hlm. 163

Bila engkau mencintai seseorang
Orang itu pun membalas dengan
Tulus,
Itulah sorga dunia
(Cintaku, Tuhanku – Sorga Dunia) hlm. 167